Syaiful M Maghsri :: Motivator Spiritual | Konsultan Cara Kaya | Cara Sukses| Mengatasi Masalah

Home artikel populer Meneladani Cara Makan Rasulullah; 15 Poin Penting

Meneladani Cara Makan Rasulullah - Syaiful Maghsri.com

Bagikan:

Sebagai manusia, Rasulullah pun membutuhkan makan. Bagaimana cara beliau makan itulah yang menjadu sunah dan selayaknya kita mengikuti beliau. Meneladani cara makan Rasulullah tidak hanya untuk mengatasi rasa lapar, tapi juga untuk ibadah dan tentu saja kesehatan. Makan harus dilakukan secara benar, sehingga tubuh dapat menyerap nutrisi dari makanan secara optimal.

Meneladani Cara Makan Rasulullah

1. Ibnul Qayyim berkata: Barangsiapa yang memperhatikan makanan yang dikonsumsi Nabi, niscaya ia mengerti bahwa beliau tidak pernah memadukan menu; antara susu dengan ikan, antara susu dengan cuka, antara dua makanan yang sama-sama mengandung unsur panas, unsur dingin, unsur lengket, unsur penyebab sembelit, unsur penyebab mencret, unsur keras.

Atau dua makanan yang mengandung unsur kontradiktif, misalnya antara makanan yang mengandung unsur penyebab sembelit dengan yang mengandung penyebab mencret, antara yang mudah dicerna dengan yang sulit dicerna, antara yang dibakar dengan yang direbus, antara daging yang segar, dengan yang sudah digarami dan dikeringkan, antara susu dengan telur, dan antara daging dengan susu.

Beliau tidak pernah makan pada saat makanan tersebut masih sangat panas atau masakan yang dihangatkan untuk besok, makanan-makanan yang bulukan (berjamur) dan asin, seperti makanan-makanan yang diasinkan, diasamkan, atau dihanguskan. Semua makanan ini berbahaya dan menimbulkan berbagai macam gangguan kesehatan.

2. Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam biasa melawan unsur panas pada makanan dengan unsur dingin pada makanan lain, unsur kering suatu makanan dengan unsur basah pada makanan lain, sebagaimana beliau memakan mentimun dengan ruthob (kurma matang yang belum dikeringkan), makan tamr (kurma kering) dengan minyak samin, meminum ekstrak kurma untuk melunakkan chymus (Materi semi cair, homogen, berkrim atau seperti gruel yang dihasilkan oleh pencernaan makanan oleh lambung) makanan-makanan keras. Itulah intisari makanan sehat.

**

3. Beliau tidak biasa minum ketika sedang makan, sehingga akan merusaknya, apalagi jika air tersebut panas atau dingin, karena itu pola makan yang buruk sekali.

4. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, “Rasulullah tidak pernah mencela makanan sedikitpun, jika suka, beliau memakannya, jika tidak dibiarkannya, tidak memakannya.” (HR. Bukhari : 5409, dan Muslim : 2064)

5. Beliau menyukai daging, yang paling beliau sukai adalah lengan dan bagian depan kepala kambing. Karena itu, seorang wanita Yahudi pernah meracuninya.

6. Pernah suatu ketika Rasulullah diberi daging, lantas diperlihatkan bagian lengan kepada beliau, maka beliau menyukainya. (HR. Bukhari : 5712, dan Muslim : 194)

7. Daging yang disukai Nabi adalah yang paling baik dan paling mudah dicerna oleh lambung, baik itu daging leher, lengan maupun lengan atas.

8. Beliau juga menyukai makanan-makanan manis dan madu. Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu anhu, ia berkata, “Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam menyukai makanan-makanan manis dan madu.” (Shahih Bukhari : 5614).

9. Beliau biasa makan roti dengan lauk apa saja yang beliau punya, kadang daging, kadang semangka, kadang kurma, dan kadang cuka. Beliau bersabda, “Sebaik-baik lauk adalah cuka.” (Shahih Muslim : 2052).

10. Beliau biasa makan buah-buahan hasil panen negerinya pada musimnya, beliau tidak memantangnya. Ini juga merupakan sarana paling besar untuk menjaga kesehatan.

11. Rasulullah bersabda : “Aku tidak makan sambil bersandar.” (Shahih Bukhari : 5398)

Ada tiga cara bersandar:

  • Bersandar pada rusuk.
  • Bersila.
  • Bersandar di atas sesuatu.

Jenis pertama menyulitkan makan, karena ia menghalangi aliran makanan secara alami, menghambat kecepatan masuknya makanan ke lambung, dan menekan lambung sehingga sulit terbuka untuk makanan. Lambung akan miring, tidak tegak, sehingga makanan tidak mudah sampai kepadanya.

Adapun dua jenis lainnya merupakan gaya duduk orang-orang sombong yang bertentangan dengan jiwa kehambaan.

**

12. Dalam hadits Anas disebutkan, “Saya melihat Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam duduk dengan posisi iq’a sambil memakan kurma.” (Shahih Muslim : 2044)

Beliau biasa duduk dengan posisi iq’a untuk makan, maksudnya duduk dalam posisi bertumpu pada kedua lutut, seraya memposisikan perut telapak kaki kanan, sebagai bentuk ketawadhuan kepada Rabbnya. Ini merupakan posisi paling baik pada saat makan.

13. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Jika salah seorang dari kalian makan, maka janganlah ia membersihkan tangannya sebelum menjilatinya.” (Muttafaqun ‘Alaih, Bukhari : 5376, dan Muslim : 2031).

14. Beliau makan dengan menggunakan tiga jemari beliau, dan ini merupakan cara menyuap makanan yang paling bermanfaat.

15. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Wahai anak kecil! Sebutlah nama Allah (BISMILLAH), makanlah dengan tangan kanan, dan makanlah makanan yang terdekat darimu.” (Muttafaqun ‘Alaih, Bukhari : 5376, dan Muslim : 2022).

Demikianlah cara makan yang paling baik adalah cara makan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan cara makan siapa saja yang meniru cara beliau.

Diringkas dari kitab : KEAJAIBAN THIBBUN NABAWI, Penulis : Aiman bin ‘Abdul Fattah, Halaman 175 – 178. Penerbit : Al-Qowam

 

 

 

Meneladani Cara Makan Rasulullah - Syaiful Maghsri.com

 

 

 

 

Artikel menarik lainnya yang sebaiknya Anda baca:


Tuliskan ulasan Anda untuk artikel atau pengalaman Anda setelah mengikuti pelatihan atau bimbingan bersama Bapak Syaiful Maghsri

Bagikan:


kapsul solusi, solusi masalah, kapsul bioenergi

Artikel Terbaru

10 Cara Memotivasi Karyawan - Syaiful Maghsri.com

Salah satu kunci penting memotivasi karyawan adalah menghindari tindakan-tindakan yang mengubur semangat dan passion karyawan. Artinya, karyawan memang sudah...